DJADIN MEDIA– Pertandingan Timnas Indonesia U-17 kontra Brasil U-17 kembali menjadi sorotan, bukan karena kemenangan atau kekalahan semata, tetapi karena pelajaran taktik yang diberikan oleh tim Samba bagi Garuda Muda. Indonesia yang menurunkan strategi bertahan total alias low block berharap bisa menahan laju serangan Brasil, namun kenyataannya rencana tersebut justru menjadi bumerang.
Pada babak pertama, Indonesia mencoba menahan Brasil dengan formasi rapat, menjaga jarak antar lini, dan menunggu peluang serangan balik cepat. Namun, ekspektasi ini tak berjalan sesuai rencana. Posisi lini tengah dan belakang terlihat renggang, memberikan ruang luas bagi pemain Brasil untuk mengatur tempo permainan dan memaksimalkan setiap peluang.
Tekanan yang diterapkan pemain depan Indonesia juga tidak konsisten. Serangan balik yang seharusnya menjadi senjata justru terbatas karena pemain Brasil dengan mudah mengalirkan bola dari lini belakang hingga lini depan tanpa hambatan berarti. Kesalahan koordinasi ini membuat struktur pertahanan Indonesia mudah ditembus.
Brasil menunjukkan permainan sabar dan cerdas. Pemanfaatan lebar lapangan, umpan satu-dua cepat, serta pergerakan tanpa bola membuat Garuda Muda kelelahan. Gol pertama Brasil bukan hanya membuka skor, tetapi juga melemahkan mental pemain Indonesia. Kepercayaan diri lini belakang yang awalnya cukup solid mulai goyah, memperbesar celah untuk gol-gol berikutnya.
Selain itu, kombinasi taktik Brasil yang mengedepankan penguasaan bola dan manajemen ritme pertandingan menjadi bukti betapa pentingnya disiplin posisi, koordinasi antar lini, dan pressing kompak sejak dari depan. Tanpa ketiganya, strategi low block rentan untuk dieksploitasi tim lawan yang lebih disiplin dan terorganisir.
Pelatih Timnas Indonesia U-17 pun tampak harus melakukan evaluasi mendalam. Tidak hanya soal pertahanan, tetapi juga transisi cepat dari bertahan ke menyerang, komunikasi antar pemain, serta kemampuan menahan tekanan lawan yang agresif.
Pertandingan ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia U-17: pertahanan total tidak cukup jika tidak diimbangi koordinasi yang rapi, kedisiplinan posisi, dan konsistensi dalam menekan lawan. Brasil U-17 menunjukkan bahwa kesabaran, organisasi permainan, dan ketepatan eksekusi bisa menghancurkan blok pertahanan yang rapuh.
Dengan pengalaman ini, Garuda Muda diharapkan mampu memperbaiki struktur permainan mereka untuk pertandingan selanjutnya, belajar dari celah yang terlihat, dan meningkatkan mental serta teknik individu agar strategi bertahan bisa lebih efektif menghadapi tim kelas dunia.***

