DJADIN MEDIA- Kodam XXI/Radin Inten akan menggelar Pentas Seni dan Budaya Keberagaman pada 10 Januari 2026 sebagai ruang hiburan publik yang berpadu dengan aksi kemanusiaan. Acara ini dinilai penting karena menghadirkan seni budaya Nusantara sekaligus membuka kesempatan luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi membantu korban bencana di wilayah Sumatera.
Kegiatan ini terbuka gratis untuk umum dan dirancang agar dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain menikmati pertunjukan seni, pengunjung juga diajak terlibat langsung dalam penggalangan donasi yang hasilnya akan disalurkan kepada warga terdampak bencana alam. Pendekatan ini menempatkan seni bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai medium empati dan solidaritas sosial.
Rangkaian acara akan menampilkan beragam kesenian daerah yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia. Masyarakat dapat menyaksikan tari khas Lampung, Reog, Jatilan, tari Bali, hingga kesenian daerah lain yang merepresentasikan semangat persatuan dalam perbedaan. Nuansa kebersamaan menjadi benang merah yang ingin dihadirkan sepanjang acara.
Memasuki malam hari, suasana akan semakin semarak dengan hiburan Campur Sari dan Dangdut yang akrab dengan selera lintas generasi. Acara kemudian dilanjutkan dengan Tari Sigeh Penginten khas Lampung serta Tari Prajurit dari Sanggar Wayang. Puncak kegiatan akan ditutup dengan pagelaran Wayang Kulit berlakon “Bimo Krido” yang sarat pesan moral dan nilai kemanusiaan.
Untuk meningkatkan antusiasme masyarakat, panitia juga menyiapkan berbagai door prize yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Kehadiran hadiah ini diharapkan membuat acara semakin inklusif dan ramah keluarga, sehingga masyarakat datang bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari gerakan kebersamaan.
Aster Kodam XXI/Radin Inten Kolonel Infanteri Anang menjelaskan bahwa kegiatan ini disiapkan sebagai ajang hiburan yang memiliki nilai sosial kuat. “Pentas seni ini kami gelar untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengajak masyarakat ikut peduli terhadap saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatra,” ujarnya.
Menurut Anang, konsep acara gratis dipilih agar tidak ada jarak antara penyelenggara dan masyarakat. “Kami ingin masyarakat datang bersama keluarga, menikmati seni dan budaya, serta berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan dengan penuh keikhlasan,” katanya. Ia menegaskan bahwa donasi yang dikumpulkan bersifat sukarela dan akan disalurkan sesuai kebutuhan korban bencana.
“Donasi yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Ini adalah wujud nyata gotong royong dan kepedulian sosial,” tambah Anang. Ia berharap, melalui pendekatan budaya, nilai empati dan solidaritas dapat tumbuh secara alami di tengah masyarakat.
Pentas seni budaya ini diproyeksikan menjadi momentum kebersamaan antara TNI dan warga. Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini menghadirkan pesan bahwa kepedulian sosial dapat dibangun melalui cara-cara yang hangat, inklusif, dan dekat dengan keseharian masyarakat.***

