• Biolink
  • Djadin Media
  • Network
  • Sample Page
Wednesday, September 2, 2026
  • Login
Djadin Media
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
Djadin Media
No Result
View All Result
Home Daerah

Musim Kemarau Makin Kering, Warga Rajabasa Diberi Warning soal Bahaya Karhutla

MeldabyMelda
September 1, 2026
in Daerah
0
Musim Kemarau Makin Kering, Warga Rajabasa Diberi Warning soal Bahaya Karhutla

DJADIN MEDIA — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Lampung Selatan kembali menjadi perhatian. Di tengah cuaca panas dan musim kemarau yang kering, masyarakat pesisir Rajabasa diminta tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut berada di garis depan dalam mencegah munculnya kebakaran.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi pencegahan serta penanganan karhutla bertema “Masyarakat Peduli Karhutla” yang digelar Tim Penyuluh dan Edukator Pencegahan serta Penanganan Karhutla wilayah Kodim 0421/Lampung Selatan.

Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Selasa (1/9/2026).

Sekitar 50 warga pesisir Rajabasa mengikuti kegiatan tersebut. Mereka merupakan masyarakat yang sehari-hari tinggal dan beraktivitas di kawasan yang berbatasan langsung dengan kawasan Gunung Rajabasa.

Ketua Tim Penyuluh dan Edukator Pencegahan serta Penanganan Karhutla wilayah Kodim 0421/Lampung Selatan sekaligus Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat, Brigjen Bangkit Rahmat Tri Widodo, hadir bersama tim.

Turut hadir Kepala Dinas Damkarmat Lampung Selatan M. Sefri Masdian, Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan Maturidi serta Camat Rajabasa Firdaus.

Dalam kegiatan tersebut, Kolonel Adm TNI AU Muhammad Sukirno yang mewakili Tim Penyuluh dan Edukator menegaskan bahwa pencegahan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam kebakaran, BPBD, TNI maupun kepolisian.

Justru masyarakat yang tinggal paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran memiliki posisi sangat penting. Warga dinilai menjadi pihak pertama yang dapat melihat sekaligus merespons potensi munculnya api sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih besar.

“Mari, semua elemen masyarakat Rajabasa, dari tokoh adat hingga warga paling ujung desa, untuk mengubah cara pandang kita dari tidak peduli menjadi peduli, dari siaga menjadi waspada,” kata Muhammad Sukirno.

Menurutnya, kepedulian masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi kondisi cuaca panas berkepanjangan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

El Nino Tingkatkan Risiko Kebakaran

Kepala Dinas Damkarmat Lampung Selatan M. Sefri Masdian menjelaskan kondisi El Nino turut memberikan dampak terhadap meningkatnya risiko kebakaran.

Fenomena tersebut dapat menyebabkan curah hujan menurun sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kondisi lingkungan menjadi semakin kering.

Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh lingkungan. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air bersih, energi hingga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Data Dinas Damkarmat Lampung Selatan mencatat, hingga 31 Agustus 2026 telah terjadi 128 peristiwa kebakaran di wilayah Lampung Selatan.

Dari total tersebut, sebanyak 55 kejadian merupakan kebakaran lahan.

Yang menjadi perhatian, Sefri menyebut seluruh kejadian kebakaran lahan yang tercatat disebabkan oleh aktivitas manusia, baik karena kesengajaan maupun kelalaian.

Mulai dari pembukaan lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering hingga membakar sampah tanpa pengawasan menjadi sejumlah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Dari data yang kami miliki, kebakaran lahan semuanya akibat aktivitas manusia. Seperti pembakaran sampah atau membuang puntung rokok sembarangan,” jelas Sefri.

Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya menjaga diri dari aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, tetapi juga berani saling mengingatkan.

Jika menemukan warga membakar sampah di lokasi rawan atau membuka lahan dengan cara dibakar, masyarakat diminta segera memberikan peringatan.

“Jika menemukan atau melihat orang membakar sampah pada area yang dapat memicu kebakaran atau membuka lahan dengan cara dibakar, tolong diingatkan. Bahaya, itu dapat memicu terjadinya kebakaran,” tambahnya.

Belajar dari Kebakaran 912 Hektare di TNWK

Pentingnya kewaspadaan semakin terlihat setelah kebakaran melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) pada 21 Agustus 2026.

Berdasarkan analisis tim, kebakaran tersebut diduga kuat dipicu aktivitas pemburu liar yang membuat perapian kemudian lalai memadamkannya.

Akibatnya, api membakar sekitar 912,49 hektare lahan.

Medan yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman tidak mudah. Tak kurang dari 250 personel dikerahkan untuk melakukan penanganan.

Setelah berlangsung selama delapan hari, kebakaran akhirnya dinyatakan padam pada 28 Agustus 2026.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kebakaran yang bermula dari aktivitas manusia dapat berkembang menjadi persoalan besar, terutama ketika terjadi di kawasan dengan medan sulit dan kondisi lingkungan kering.

Gunung Rajabasa Jangan Sampai Jadi Korban

Sefri meminta masyarakat Lampung Selatan mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Terlebih, Kabupaten Lampung Selatan memiliki kawasan Gunung Rajabasa yang memiliki luasan mencapai 5.200,5 hektare.

Kawasan tersebut bukan hanya penting bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

“Mari kita secara bersama untuk menjaga (Gunung Rajabasa) agar tetap hijau, tetap memberikan penghidupan kita semua,” kata Sefri.

Ia berharap kepedulian masyarakat tidak baru muncul ketika api sudah membesar. Sebaliknya, kewaspadaan harus dimulai dari aktivitas sehari-hari.

Melalui sosialisasi dan edukasi yang terus dilakukan, masyarakat pesisir Rajabasa diharapkan mampu menjadi sistem peringatan paling awal terhadap potensi karhutla.

Sebab, satu tindakan sederhana seperti tidak membakar sampah sembarangan atau segera mengingatkan orang yang melakukan pembakaran di area rawan dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran meluas.

Dengan kolaborasi masyarakat, pemerintah, TNI, Polri, BPBD dan petugas Damkarmat, kawasan Gunung Rajabasa diharapkan tetap hijau dan terhindar dari ancaman karhutla sepanjang musim kemarau.

Source: AHMAD HIDAYAT
Tags: berita lampung selatanberita lampung terkiniBPBD Lampung SelatanDamkarmat Lampung SelatanEl NinoGunung RajabasaKarhutlakebakaran hutan dan lahankebakaran lahan Lampung SelatanKodim 0421 Lampung SelatanLampung Selatan.LAMSELM Sefri Masdianmasyarakat peduli karhutlaMaturidimusim kemarau 2026pencegahan KarhutlarajabasaTaman Nasional Way KambasTNITNWKWay Muli
Previous Post

Kemarau 2026 Diprediksi Panjang, Mabes TNI Dorong Pringsewu Perkuat Antisipasi Karhutla

Next Post

1.651 Ton Beras Disalurkan ke Pringsewu, Ini Jumlah Warga yang Bakal Menerima

Next Post
1.651 Ton Beras Disalurkan ke Pringsewu, Ini Jumlah Warga yang Bakal Menerima

1.651 Ton Beras Disalurkan ke Pringsewu, Ini Jumlah Warga yang Bakal Menerima

Facebook Twitter

Alamat Kantor

Perumahan Bukit Billabong Jaya Blok C6 No. 8,
Langkapura, Bandar Lampung
Email Redaksi : lampunginsider@gmail.com
Nomor WA/HP : 081379896119

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In