• Biolink
  • Djadin Media
  • Network
  • Sample Page
Thursday, March 12, 2026
  • Login
Djadin Media
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
Djadin Media
No Result
View All Result
Home Daerah

Dakocan Bahas Perspektif Gender dalam Sastra pada Peringatan Hari Perempuan Sedunia

IwangbyIwang
March 11, 2026
in Daerah
0
Dakocan Bahas Perspektif Gender dalam Sastra pada Peringatan Hari Perempuan Sedunia

DJADIN MEDIA- Komunitas Dongeng Dakocan memperingati Hari Perempuan Sedunia dengan menggelar diskusi sastra bertema narasi tubuh perempuan dalam puisi dan cerpen. Kegiatan ini berlangsung di Panggung Seni Di bawah Pohon Rindang (DPR), Komplek Taman Budaya Lampung, Senin (9/3/2026) petang.

Diskusi tersebut menghadirkan dua pembicara perempuan, yakni penulis sekaligus akademisi Fitri Angraini, S.S., M.Pd., serta penyair dan anggota Forum Aktif Menulis Muda (FAMM) Indonesia, Iin Zakaria. Acara dipandu oleh moderator James Reinaldo Rumpia dan dihadiri audiens dari kalangan seniman, mahasiswa, serta komunitas sastra di Lampung.

Kegiatan Hari Perempuan Sedunia ini juga dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang mempererat silaturahmi di antara para pegiat literasi.

Diskusi Sastra dari Perspektif Gender dan Budaya

Dalam diskusi tersebut, para pembicara membedah karya sastra Indonesia dari perspektif gender, antropologi sastra, serta dinamika budaya yang membentuk narasi tentang tubuh perempuan.

Fitri Angraini menjelaskan bahwa sastra, khususnya puisi dan cerpen, memiliki peran penting dalam menyuarakan pengalaman perempuan di tengah masyarakat yang masih dipengaruhi budaya patriarki.

Menurutnya, perjuangan perempuan tidak hanya terjadi di ruang sosial dan politik, tetapi juga melalui karya sastra.

“Perjuangan menulis juga merupakan bagian dari perjuangan perempuan. Sastra feminis sering menjadi media kritik terhadap budaya patriarki sekaligus sarana memperjuangkan kesetaraan gender,” kata Fitri.

Ia menambahkan bahwa melalui tokoh dan cerita yang ditampilkan dalam karya sastra, pembaca dapat memahami identitas, kebebasan, serta hak-hak perempuan secara lebih luas.

Perubahan Suara Perempuan dalam Sastra Indonesia

Fitri juga mengulas perkembangan representasi perempuan dalam sastra Indonesia dari masa ke masa. Ia menyinggung karya klasik seperti novel Siti Nurbaya karya Marah Roesli yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah sastra Indonesia.

Menurutnya, suara perempuan dalam karya sastra terus berkembang seiring perubahan zaman.

“Suara perempuan dalam sastra Indonesia menunjukkan perubahan dari posisi yang inferior atau tersisih menuju posisi yang lebih setara dengan laki-laki,” ujarnya.

Ia juga menyinggung sejumlah karya dari sastrawan modern yang banyak membicarakan pengalaman perempuan, seperti karya Hartoyo Andangjaya, Djenar Maesa Ayu, dan Sapardi Djoko Damono.

Tubuh Perempuan sebagai Ruang Pengalaman dan Resistensi

Sementara itu, penyair Iin Zakaria menjelaskan bahwa narasi tubuh perempuan dalam puisi dan cerpen merupakan representasi yang kompleks karena berkaitan dengan dimensi sosial, budaya, hingga politik.

Menurutnya, dalam banyak karya sastra, tubuh perempuan kerap diposisikan sebagai objek estetika atau simbol moralitas yang dikendalikan oleh norma patriarki.

“Dalam banyak teks sastra, tubuh perempuan sering diposisikan sebagai objek estetika dan simbol moralitas yang dikontrol oleh norma patriarki,” kata Iin.

Namun ia menilai perkembangan sastra modern mulai menghadirkan perspektif yang lebih kritis dan reflektif.

“Banyak penulis perempuan mulai menampilkan tubuh sebagai ruang pengalaman dan juga sebagai bentuk resistensi terhadap konstruksi sosial,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kajian narasi tubuh perempuan dalam sastra tidak hanya penting bagi studi sastra, tetapi juga membantu memahami relasi gender dalam kehidupan masyarakat.

Diskusi Sastra Warnai Peringatan Hari Perempuan Sedunia

Diskusi yang digelar Komunitas Dongeng Dakocan ini menjadi ruang dialog bagi para penulis, akademisi, dan mahasiswa untuk membahas isu perempuan dalam karya sastra.

Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa peringatan Hari Perempuan Sedunia tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui diskusi intelektual yang membuka ruang refleksi tentang kesetaraan gender.

Para peserta yang hadir berasal dari berbagai komunitas dan perguruan tinggi, di antaranya mahasiswa UIN Raden Intan Lampung, Universitas Teknokrat Indonesia, Komunitas Penulis Muda Lampung (KPML), serta para pemerhati sastra di Lampung.***

Source: Isbedy Stiawan
Tags: Dakocan Lampungdiskusi sastra LampungFitri AngrainiHari Perempuan SeduniaIin Zakarianarasi tubuh perempuansastra feminis IndonesiaTaman Budaya Lampung
Previous Post

Kurasi Ketat Kemah Sastra 2026, Penulis Pelajar dan Mahasiswa Lolos Seleksi

Facebook Twitter

Alamat Kantor

Perumahan Bukit Billabong Jaya Blok C6 No. 8,
Langkapura, Bandar Lampung
Email Redaksi : lampunginsider@gmail.com
Nomor WA/HP : 081379896119

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In