• Biolink
  • Djadin Media
  • Network
  • Sample Page
Sunday, March 8, 2026
  • Login
Djadin Media
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
Djadin Media
No Result
View All Result
Home Daerah

Keterlibatan Indonesia di “Board of Peace” Picu Refleksi soal Konsistensi Politik Luar Negeri

MeldabyMelda
March 7, 2026
in Daerah
0
Keterlibatan Indonesia di “Board of Peace” Picu Refleksi soal Konsistensi Politik Luar Negeri

DJADIN MEDIA – Keterlibatan Indonesia dalam forum internasional yang disebut “Board of Peace” memunculkan refleksi kritis mengenai arah dan konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia. Hal ini disampaikan oleh peneliti , , dalam tulisan reflektif yang dirilis bertepatan dengan hari ke-12 1447 Hijriah.

Dalam refleksinya, Arief menggunakan peribahasa klasik “bagai pungguk merindukan bulan” untuk menggambarkan kondisi ketika suatu pihak memiliki harapan besar namun tidak berpijak pada realitas.

Menurutnya, peribahasa tersebut dapat menjadi pengingat bagi sebuah negara agar tidak kehilangan jati diri di tengah dinamika geopolitik global.

“Masalahnya bukan pada bulan, tetapi pada pungguk yang lupa batas dirinya. Hal itu berbahaya jika terjadi pada sebuah negara yang kehilangan kesadaran identitasnya,” tulis Arief.

Ia menilai bahwa Indonesia memang memiliki mandat konstitusional untuk berperan dalam menjaga ketertiban dunia, sebagaimana tertuang dalam . Namun, menurutnya prinsip tersebut harus tetap berpijak pada amanat utama konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan.

Dalam konteks konflik antara dan , Arief menilai pendekatan diplomasi seperti solusi dua negara atau perlu dikaji secara kritis agar tidak mengabaikan persoalan mendasar terkait pendudukan wilayah serta ketimpangan kekuasaan yang masih berlangsung.

Menurutnya, diplomasi perdamaian harus tetap mengedepankan prinsip keadilan.

“Perdamaian tanpa keadilan bukanlah perdamaian, melainkan sekadar jeda konflik yang dipoles bahasa diplomasi,” ujarnya.

Arief juga menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum internasional seharusnya memperkuat amanat konstitusi, bukan sekadar menjadi simbol kehadiran dalam panggung politik global.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang setia pada prinsipnya, bahkan ketika sikap itu membuatnya tidak populer,” tulisnya.

Ia menutup refleksinya dengan mengajak Indonesia tetap berpijak pada jati diri serta nilai-nilai konstitusi dalam menjalankan diplomasi internasional. Menurutnya, menjaga konsistensi prinsip jauh lebih penting daripada sekadar tampil dalam forum global.***

Source: MELDA
Tags: Board of PeaceDiplomasi IndonesiaGlobal Future InstituteIndonesiaIsrael PalestinaM Arief PranotoPolitik Luar Negeri IndonesiaRefleksi RamadanTwo State Solution
Previous Post

Menuju Lapas Modern, Kalianda Terapkan Sistem Pembayaran Non Tunai bagi WBP

Next Post

Menepi di Rumah Allah: Makna I’tikaf dalam Meraih Lailatul Qadar

Next Post
Menepi di Rumah Allah: Makna I’tikaf dalam Meraih Lailatul Qadar

Menepi di Rumah Allah: Makna I’tikaf dalam Meraih Lailatul Qadar

Facebook Twitter

Alamat Kantor

Perumahan Bukit Billabong Jaya Blok C6 No. 8,
Langkapura, Bandar Lampung
Email Redaksi : lampunginsider@gmail.com
Nomor WA/HP : 081379896119

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In