DJADIN MEDIA- Aksi kreatif warga yang menjuluki kubangan jalan sebagai “Wisata Telaga Semu” di Kecamatan Purbolinggo berbuah respons cepat pemerintah daerah dan gerakan gotong royong. Kolaborasi ini mendapat apresiasi akademisi sebagai contoh partisipasi publik yang konstruktif dalam mendorong perbaikan infrastruktur di Kabupaten Lampung Timur.
Partisipasi Publik Dorong Perbaikan Infrastruktur
Dosen Institut Teknologi Sumatera, IB Ilham Malik, menilai fenomena “Wisata Telaga Semu” bukan sekadar sindiran, melainkan bentuk jurnalisme warga yang membantu pemerintah memetakan kondisi lapangan secara cepat.
“Informasi dari masyarakat, baik foto maupun video, menjadi data awal yang sangat bermanfaat untuk mengetahui titik kerusakan jalan yang membutuhkan penanganan,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Menurut Ilham, dokumentasi visual yang beredar di media sosial dapat menjadi checklist awal dalam menentukan prioritas perbaikan dan estimasi kebutuhan teknis.
Dari Sindiran Menjadi Solidaritas
Aksi warga bermula dari viralnya kubangan besar di ruas penghubung Purbolinggo menuju Kota Metro dan Sukadana. Papan bertuliskan “Grand Opening Telaga Sewu” dipasang sebagai simbol protes atas kerusakan jalan yang lama tak tertangani.
Ketua Korda Bagong Mogok Lampung Timur, Santa, mengatakan gerakan gotong royong lahir dari kekhawatiran warga terhadap keselamatan pengguna jalan.
“Kondisinya sudah membahayakan. Kami bergerak karena khawatir ada korban. Di sisi lain, kami memahami keterbatasan anggaran pemerintah,” kata Santa.
Relawan dan donatur lokal menimbun lubang secara swadaya agar kendaraan dapat melintas lebih aman. Gerakan sosial tersebut kemudian memicu percepatan penanganan oleh pemerintah daerah.
Respons Cepat Pemerintah Daerah
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyatakan pemerintah segera menurunkan alat berat dan tenaga teknis untuk memperbaiki titik kerusakan terparah.
“Dinas terkait saya perintahkan menimbun lubang-lubang yang ada di jalan tersebut. Ruas jalan ini juga sudah masuk dalam perencanaan pembangunan tahun 2026,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah mengapresiasi kritik kreatif masyarakat dan peran media dalam menyampaikan informasi kondisi infrastruktur secara terbuka.
Kolaborasi Jadi Model Penanganan Infrastruktur
Akademisi menilai sinergi antara warga dan pemerintah menunjukkan praktik checks and balances yang sehat. Partisipasi publik membantu transparansi kebijakan sekaligus mempercepat pengambilan keputusan berbasis data lapangan.
Bagi warga Purbolinggo, peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa kritik kreatif dapat berubah menjadi energi kolektif untuk memperbaiki ruang hidup bersama melalui gotong royong.***

