DJADIN MEDIA — Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur terus berbenah. Pembangunan sejumlah fasilitas konservasi kini dikebut sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan satwa sekaligus mengurangi potensi konflik antara gajah dan masyarakat.
Progres pembangunan kawasan yang dipantau langsung jajaran pemerintah dan aparat keamanan pada Senin (31/8/2026) tersebut disebut telah mencapai sekitar 65 persen secara keseluruhan. Sementara sejumlah bagian pembangunan pagar besi di kawasan disebut telah mencapai sekitar 75 persen.
Kunjungan tersebut dilakukan Pangdam XXI/Raden Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi bersama jajaran, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Polda Lampung, serta Bupati Lampung Timur.
Mereka melihat langsung kondisi kawasan TNWK, termasuk area yang sebelumnya terdampak kebakaran. Pemantauan dilakukan sekaligus untuk memastikan langkah pencegahan kebakaran dan penguatan konservasi terus berjalan.
Pagar Besi Jadi Benteng Cegah Gajah Masuk Permukiman
Salah satu perubahan yang terlihat di kawasan Way Kambas adalah pembangunan pagar besi di sejumlah titik.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari program mitigasi konflik manusia dan gajah. Tujuannya sederhana tetapi penting, yakni membantu menjaga gajah tetap berada di habitatnya sehingga tidak keluar menuju permukiman warga.
Pangdam XXI/Raden Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan pembangunan fasilitas tersebut dilakukan Komite Mitigasi.
“Memang untuk memitigasi konflik antara manusia dengan gajah. Kita lihat di sepanjang ini ada pagar-pagar besi yang sudah dibuat,” kata Kristomei.
Menurutnya, penanganan konflik tidak cukup hanya dengan membangun pembatas. Masyarakat di sekitar kawasan juga didorong mengembangkan tanaman maupun usaha yang dapat membantu mengurangi ketertarikan gajah untuk mendekati permukiman.
Salah satunya melalui budidaya serai dan lebah.
“Serai dan lebah ini tidak disukai gajah sehingga turut menjaga supaya gajah tidak keluar. Hasilnya juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar, seperti madu dan serai,” ujarnya.
Konsep tersebut membuat upaya konservasi tidak hanya berbicara tentang satwa, tetapi juga menyentuh sisi ekonomi masyarakat.
Hasil budidaya madu dan serai diharapkan dapat menjadi sumber tambahan pendapatan bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan TNWK.
Way Kambas Disiapkan Jadi Destinasi Ekowisata
Pembenahan TNWK juga diarahkan untuk mengembangkan kawasan tersebut menjadi pusat ekowisata.
Kristomei mengatakan Way Kambas memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.
Namun, pengembangan pariwisata tetap harus berjalan beriringan dengan konservasi dan peningkatan kemampuan dalam merawat satwa.
Untuk mendukung hal tersebut, Komite Mitigasi menggandeng ENP dari Thailand. Kerja sama tersebut salah satunya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mahout atau pawang gajah dalam merawat dan mengelola satwa.
Dengan peningkatan kemampuan tersebut, pengelolaan gajah di TNWK diharapkan semakin profesional dan sesuai dengan kebutuhan konservasi.
Pembangunan berbagai fasilitas tersebut ditargetkan terus dikebut hingga Oktober 2026.
Pasca Kebakaran, Pengamanan Way Kambas Diperkuat
Selain persoalan konflik manusia dan gajah, kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk melihat kondisi TNWK pascakebakaran.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan pemerintah bersama TNI dan Polri masih melakukan pemantauan terhadap kawasan, termasuk potensi munculnya titik api baru.
Personel Kodam dan kepolisian masih disiagakan untuk melakukan monitoring sekaligus sosialisasi kepada masyarakat sekitar.
“Teman-teman dari Kodam, teman-teman dari kepolisian masih standby di sini. Ada yang melakukan sosialisasi, ada yang air monitoring,” ujar Mirza.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kebakaran, termasuk opsi modifikasi cuaca atau hujan buatan apabila diperlukan.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat kawasan TNWK memiliki ekosistem yang luas dan rentan terdampak kebakaran ketika kondisi cuaca kering berlangsung.
Gubernur Pastikan Kondisi Gajah Sehat
Di tengah berbagai upaya pembenahan, kondisi satwa menjadi perhatian utama.
Dalam kunjungannya, Mirzani turut melihat langsung sejumlah gajah yang berada di kawasan konservasi Way Kambas.
Ia memastikan kondisi gajah yang ditemuinya dalam keadaan baik.
“Alhamdulillah, gajah-gajah yang kita lihat tadi dalam keadaan sehat,” kata Mirza.
Pembenahan TNWK kini tidak hanya soal membangun pagar atau memperbaiki fasilitas. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kelestarian satwa, keselamatan masyarakat, pencegahan kebakaran, dan pengembangan ekonomi lokal.
Jika seluruh program berjalan sesuai target, Way Kambas diharapkan tidak hanya semakin aman bagi gajah, tetapi juga semakin nyaman bagi masyarakat serta memiliki daya tarik lebih kuat sebagai destinasi ekowisata unggulan Lampung.

