DJADIN MEDIA- Bakal Calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031, Dr. Budiono, menegaskan tidak boleh ada mahasiswa yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi hanya karena tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi aset strategis kampus sebagai sumber pendapatan alternatif di luar UKT
“Tidak boleh ada sejarah di Universitas Lampung orang tidak bisa kuliah karena tidak bayar UKT. Dzolim kalau ada mahasiswa putus kuliah karena tidak bayar UKT,” tegas Budiono saat menjawab keresahan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila, Fajar Irawan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum pemaparan gagasan yang dihadiri lima kandidat bakal calon rektor Unila, Rabu, 28 Oktober 2026. Salah satu kandidat yang hadir adalah Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, Dekan FISIP Unila.
Budiono menilai mahasiswa harus ditempatkan sebagai subjek utama dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, bukan sekadar objek kebijakan kampus. Menurutnya, mahasiswa merupakan mitra yang harus menjadi pusat perhatian dalam pengambilan keputusan universitas.
“Saya selalu mengatakan mahasiswa itu bukan semata sebagai objek tapi sebagai subjek, menjadi pusat, menjadi mitra kita, kita Universitas,” tutur dosen hukum tata negara tersebut.
Bidik Kemandirian Ekonomi Kampus
Menjawab keresahan mahasiswa mengenai keberlanjutan pendidikan dan kemampuan ekonomi kampus, Budiono menyoroti pentingnya menggali sumber pendapatan Unila di luar pembayaran UKT.
Ia menilai kemandirian ekonomi universitas tidak cukup dibangun hanya dengan mengandalkan satu sumber pendapatan. Seluruh sumber daya strategis yang dimiliki kampus perlu dipetakan dan dimanfaatkan secara optimal.
Dalam forum tersebut, Budiono mengungkap keberadaan tanah di kawasan Sukadanaham, Bandar Lampung, yang menurut ingatannya merupakan hibah dari Prof. Muhajir. Ia menilai aset tersebut memiliki potensi strategis untuk dikembangkan menjadi sumber pendapatan universitas.
“Kalau saya tidak salah, Prof. Muhajir pernah menghibahkan tanah di Sukadanaham. Itu kalau tidak dimanfaatkan, saya pernah ngomong dengan Rektor sebelumnya, ini kalau tidak dimanfaatkan ini akan hilang karena di sekitarnya sudah tumbuh perumahan-perumahan yang cepat sekali,” ujarnya.
Menurut Budiono, perkembangan kawasan permukiman di sekitar lokasi tersebut menjadi alasan penting bagi Unila untuk segera meninjau dan mengoptimalkan pemanfaatan tanah hibah itu.
Ia mengingatkan bahwa aset yang tidak dikelola secara tepat berisiko kehilangan nilai strategisnya, terutama ketika pembangunan di kawasan sekitarnya terus berkembang.
Aset Strategis untuk Menambah Pendapatan Unila
Budiono berpandangan, upaya mewujudkan kemandirian ekonomi kampus harus dilakukan melalui pendekatan menyeluruh. Unila perlu mengidentifikasi dan mengembangkan berbagai potensi aset yang dimiliki, termasuk tanah hibah di Sukadanaham yang berada di kawasan berkembang di Bandar Lampung.
Langkah tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat sumber pendapatan universitas sekaligus mendukung keberlanjutan pembiayaan pendidikan.
“Kalau tidak dimanfaatkan ini akan hilang, ini aset yang sangat strategis kalau bisa kita yang manfaatkan untuk menambah sumber pendapatan selain UKT,” tuturnya.
Gagasan itu sejalan dengan keresahan Fajar Irawan yang menginginkan Unila memiliki kemandirian ekonomi agar persoalan biaya tidak menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan.
Bagi Budiono, optimalisasi aset bukan sekadar persoalan pengelolaan kekayaan kampus. Lebih dari itu, pemanfaatan aset secara produktif dapat menjadi bagian dari upaya memperluas kemampuan universitas dalam menjamin keberlangsungan pendidikan mahasiswa.***

