• Biolink
  • Djadin Media
  • Network
  • Sample Page
Thursday, July 9, 2026
  • Login
Djadin Media
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
Djadin Media
No Result
View All Result
Home Daerah

Religius, Satiris, dan Menggelitik: Menelusuri Lanskap Puitik Muhammad Alfariezie

MeldabyMelda
July 8, 2026
in Daerah
0
Religius, Satiris, dan Menggelitik: Menelusuri Lanskap Puitik Muhammad Alfariezie

DHADIN MEDIA- Muhammad Alfariezie melalui rangkaian puisi tahun 2025–2026 menghadirkan kecenderungan estetik yang mempertemukan lirik reflektif dengan kritik sosial simbolik.

Dalam Pintu Bagi Si Rajin yang Merawat Khilaf Ingkarnya, pengulangan frasa “Masih adakah maaf” membangun ritme kontemplatif yang mengingatkan pembaca pada konsep repetisi sebagai alat pencipta tekanan makna sebagaimana banyak dibahas dalam kritik puisi mutakhir setelah 2020.
Diksi alam seperti matahari, bulan, hujan, gunung, laut, dan awan tidak hadir sebagai dekorasi puitik, melainkan menjadi perangkat metaforis yang menghubungkan dimensi spiritual dengan realitas moral manusia.

Sementara itu, puisi Sinar Elit Perumahan, Nanda Pinokio Korea, dan Penikmat Dua Ribu Lima Ratusan memperlihatkan keberanian penyair memanfaatkan ironi, satire, dan bahasa sehari-hari untuk mengkritik ketimpangan sosial, budaya birokrasi, serta krisis integritas publik.
Gaya semacam ini sejalan dengan kecenderungan sastra Indonesia kontemporer yang semakin menghapus batas antara puisi liris dan puisi sosial-politik.

Pintu Bagi Si Rajin
yang Merawat Khilaf
Ingkarnya

Masih adakah maaf setelah
khilaf rutin mengukir ingkar
saat matahari mulai menebar
kharismanya, ketika bulan
meminjam rahasianya

Masih adakah maaf pasca-khilaf
bandel terhadap janjinya

Setiap saat, bahkan tak terkecuali
kala hujan menebar berkahnya

Masih terbukah pintu bagi si
bandel yang rutin menjaga khilaf
untuk ingkarnya

2026

Sinar Elit
Perumahan

Bulan penghabisan senja berenang
bukan untuk pamer warnanya tapi
hendak menginformasi

Kepada gunung, kepada laut, taman
hingga kaum elit perumahan

Betapa baik matahari berbagi sehingga
di sekitar awan

Enggak seperti sawah tanpa padi

2026

Objek
Percintaan Merah Jambu

Matahari membungkuk saat
objek percintaan berkunjung
ke suatu tempat merah jambu

Dan cahyanya ke segala penjuru
untuk tari dan nyanyi pengantin
surga itu

Objek percintaan merah jambu
ialah yang paling ditunggu

Seberkah dan sejernih gerak tutur
katanya adalah aliran tenang yang
sejuknya menampar hari-hari
termangu

2026

Nanda
Pinokio Korea

Nanda yang kulit dan hidungnya
putih mancung korea selalu
menjawab enggak tahu walau
sejak kecil pasti paham pinokio

Sekarang, tak heran dengan anak-
anak walau anaknya sebentar lagi
memiliki anak

Legenda masihkah falsafah para
penyawa?

Seperti pancasila, siapa peduli
berdiskusi sampai DPR menangis
bocah

Dan hingga wali kota kehilangan
tahta

Layaknya juga kitab suci, siapa
Yang amanah saat bersumpah?

2026

Penikmat
Dua Ribu Lima Ratusan

Kepala Dinas dan ketua asosiasi
nikmat mencecap-mengunyah
anggur hingga jeruk berwarna
baju mall mewah serta semenyala
matahari beranjak dewasa

Apa dia-dia itu tahu yang di depannya
ingin sekali acara cepat selesai hingga,
walau satu atau dua

Bisa juga layaknya para penikmat
melahap lebih dari sekadar lemper,
bolu dan kue dua ribu lima ratusan

2026

Cinta Monyet

Umpama cinta monyet adalah kasih sayang
yang hanya paham bersenggama tanpa
berpikir apa-apa dan bagaimana alasnya

Apakah Anda berkenan sebagai penganutnya
karena terus terang

Sekarang kamu senang bercinta walau tanpa
ranjang

Senang mesra-mesraan di alang-alang dan
tanpa rayuan kemudian berlalu begitu saja
persis kucing yang lahirannya tiga sampai
empat bayi yang cukup geli

2025

Di sisi lain, dari sudut pandang kritik sastra modern, kekuatan terbesar Alfariezie justru terletak pada keberaniannya mempertahankan struktur yang longgar dan asosiasi yang kadang melompat-lompat.
Teknik tersebut menghasilkan efek keterasingan (defamiliarisasi) sehingga pembaca dipaksa membangun sendiri hubungan antarsimbol.
Namun, strategi ini juga menjadi tantangan karena beberapa metafora belum sepenuhnya memperoleh kepadatan makna sehingga berpotensi menghadirkan ambiguitas yang terlalu terbuka.

Meski demikian, keseluruhan kumpulan puisi ini menunjukkan identitas estetik yang konsisten: mengawinkan religiositas, kritik sosial, humor satiris, dan citraan alam dalam satu lanskap puitik.
Karakter tersebut menempatkan karya-karya Muhammad Alfariezie sebagai representasi menarik dari kecenderungan puisi Indonesia dekade 2020-an yang bergerak menjauh dari romantisme murni menuju puisi yang lebih dialogis terhadap persoalan etika, kekuasaan, dan kehidupan masyarakat kontemporer.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Analisis Puisibudaya Indonesia.DefamiliarisasiEstetika PuisiKritik SastraKritik SosialMuhammad AlfarieziePenyair IndonesiaPuisi Indonesiapuisi kontemporerReligiusitassastra IndonesiaSastra KontemporerSastra Modernsatire
Previous Post

Pemkab Tanggamus Dorong Kemudahan Berusaha Lewat Sosialisasi OSS-RBA kepada Pelaku Usaha

Next Post

Dinas PU Pringsewu Pastikan Pembangunan Jalur Dua Dimulai Tahun 2026

Next Post
Dinas PU Pringsewu Pastikan Pembangunan Jalur Dua Dimulai Tahun 2026

Dinas PU Pringsewu Pastikan Pembangunan Jalur Dua Dimulai Tahun 2026

Facebook Twitter

Alamat Kantor

Perumahan Bukit Billabong Jaya Blok C6 No. 8,
Langkapura, Bandar Lampung
Email Redaksi : lampunginsider@gmail.com
Nomor WA/HP : 081379896119

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In