• Biolink
  • Djadin Media
  • Network
  • Sample Page
Sunday, April 19, 2026
  • Login
Djadin Media
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
Djadin Media
No Result
View All Result
Home Daerah

Ucapan Kontroversial di Tengah Derita Korban, Empati Pemimpin Dipertanyakan

MeldabyMelda
April 19, 2026
in Daerah
0
Ucapan Kontroversial di Tengah Derita Korban, Empati Pemimpin Dipertanyakan

DJADIN MEDIA- Pernyataan Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, kembali menuai sorotan publik setelah ucapannya kepada korban banjir viral di media sosial. Dalam pernyataan tersebut, ia meminta masyarakat untuk tidak mengeluh dan menganggap bencana sebagai bentuk kebaikan dari Tuhan.

Pernyataan itu memantik perdebatan, bukan semata soal narasi religius yang disampaikan, melainkan konteks sosial yang melatarbelakanginya. Bagi masyarakat yang terdampak banjir berulang, ucapan tersebut dinilai kurang mencerminkan empati terhadap kondisi riil di lapangan—di mana sebagian warga harus kehilangan harta benda bahkan anggota keluarga.

Lebih jauh, polemik ini berkembang ke ranah tata kelola anggaran. Muncul kritik terkait alokasi belanja daerah yang dianggap tidak memprioritaskan kebutuhan dasar masyarakat, seperti perbaikan drainase, infrastruktur jalan, dan pengendalian banjir.

Jika merujuk pada Permendagri No. 14 Tahun 2016, pemberian hibah seharusnya dilakukan setelah kebutuhan belanja wajib terpenuhi. Hal ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 yang menempatkan sektor pekerjaan umum—termasuk drainase dan infrastruktur—sebagai prioritas utama.

Dalam konteks ini, publik mempertanyakan arah kebijakan anggaran yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan mendesak masyarakat. Terlebih, Kota Bandar Lampung kerap dilanda banjir dalam waktu singkat saat intensitas hujan meningkat.

Dari perspektif sosiologi, fenomena ini dapat dibaca melalui pendekatan Émile Durkheim, yang menyoroti pentingnya solidaritas sosial dan peran pemimpin dalam menjaga kohesi masyarakat. Ketika empati publik tidak terbangun, maka potensi jarak antara pemerintah dan masyarakat akan semakin lebar.

Di tengah situasi tersebut, publik berharap adanya transparansi dan kejelasan dalam pengelolaan anggaran, serta langkah konkret dalam mengatasi persoalan banjir yang telah berlangsung lama. Pernyataan yang menenangkan tentu penting, namun harus diiringi dengan kebijakan yang berpihak dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang komunikasi publik, tetapi juga tentang bagaimana kebijakan dirumuskan dan dijalankan. Sebab bagi warga, yang dibutuhkan bukan sekadar imbauan untuk bersabar, melainkan solusi nyata yang mampu mencegah bencana serupa terus berulang.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: anggaran daerahBanjir Bandar LampungdrainaseeditorialEva DwianainfrastrukturKebijakan PublikKritik KebijakanPermendagri 14 2016UU 20 2014
Previous Post

Pimpinan DPRD Se-Indonesia Berkumpul di Akmil, Bahas Arah Pembangunan Nasional

Next Post

Transparansi Dipertanyakan, Akses Informasi LHP BPK Dibatasi OPD

Next Post
Transparansi Dipertanyakan, Akses Informasi LHP BPK Dibatasi OPD

Transparansi Dipertanyakan, Akses Informasi LHP BPK Dibatasi OPD

Facebook Twitter

Alamat Kantor

Perumahan Bukit Billabong Jaya Blok C6 No. 8,
Langkapura, Bandar Lampung
Email Redaksi : lampunginsider@gmail.com
Nomor WA/HP : 081379896119

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Politik
  • Teknologi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In